Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Maret 2015

Koruptor

hati penuh darah, tubuh penuh nanah
wanginya sekuntum bunga mawar
ku resap, ku elus, ke belai
kamu burung bangkai rupanya

ingin rasanya mengusir mu,
siapa pula ingin melumat bangkai-bangkai yang terkapar
kecuali kamu,
rupanya kamu tetap mengintai di tanah-tanah yang kosong




Sabtu, 28 Februari 2015

PEDIH PERIH



PEDI PERIH
ku ringkut jiwa ku yang malang, ke peluk asa di saat senja. Ku tatap dirimu penuh darah tapi sayang kamu anak sang raja. Bunga di tepi hari tak menggambarkan dirimu. Lusa kamu telah dipinang oleh lebah. Hingga aku tak menemukan mu lagi. Biarkan serak-serak melukis mu dengan air mata, tertinggal dalam resapan imajinasi, ohh….. angin pengabar ulung sang penyayat hati, aku letih menahan malu, hingga kemaluan ku tak lagi ada.

Jujur sukma ku lagi getir, jiwa ku tak mampu untuk menepi. Bumbu penyedap mu sengguh berasa. Berasa pembunuhan. Kamu jagal aku dengan sajak, tubuh ku tergetar menyerap getir. Kamu teteskan duka ke dalam luka yang tersayat. Cara mu melukai sungguh indah, seindah lantunan musik sendu.

Kamu memang tiran yang jagal, sejenak menitikan ratapan. Membunuh tanpa luka. Jiwa ku penebus takdir mu. Kamu menari, diatas panggung luka, bersolek dengan raga srinthil. Pundak ku telah menjadi nisan air mata mu. Perih pedih ku tanggung sendiri, aku bukan cawang penampung sari mu. Tapi aku penunggu bulir luka yang akan kamu lahirkan.

Yogyakarta, 28 Februari 2015
Oleh: Satira

Dari Sampean untuk Tirani