PEDI PERIH
ku ringkut jiwa ku
yang malang, ke peluk asa di saat senja. Ku tatap dirimu penuh darah tapi
sayang kamu anak sang raja. Bunga di tepi hari tak menggambarkan dirimu. Lusa
kamu telah dipinang oleh lebah. Hingga aku tak menemukan mu lagi. Biarkan
serak-serak melukis mu dengan air mata, tertinggal dalam resapan imajinasi,
ohh….. angin pengabar ulung sang penyayat hati, aku letih menahan malu, hingga
kemaluan ku tak lagi ada.
Jujur sukma ku lagi
getir, jiwa ku tak mampu untuk menepi. Bumbu penyedap mu sengguh berasa. Berasa
pembunuhan. Kamu jagal aku dengan sajak, tubuh ku tergetar menyerap getir. Kamu
teteskan duka ke dalam luka yang tersayat. Cara mu melukai sungguh indah,
seindah lantunan musik sendu.
Kamu memang tiran yang
jagal, sejenak menitikan ratapan. Membunuh tanpa luka. Jiwa ku penebus takdir
mu. Kamu menari, diatas panggung luka, bersolek dengan raga srinthil. Pundak ku
telah menjadi nisan air mata mu. Perih pedih ku tanggung sendiri, aku bukan
cawang penampung sari mu. Tapi aku penunggu bulir luka yang akan kamu lahirkan.
Yogyakarta, 28
Februari 2015
Oleh: Satira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar